Malino — Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah (PKOM IMM FK Unismuh) menggelar Sekolah Tokoh Intelektual dan Advokat (STOVIA) 2025 pada Sabtu hingga Minggu, 20–21 Desember 2025. Kegiatan ini dilaksanakan di Villa Rizki, Malino, Kabupaten Gowa, dan diikuti oleh sembilan kader PKOM IMM FK Unismuh yang telah dinyatakan lulus Darul Arqam Dasar (DAD) sebagai syarat utama keikutsertaan.
STOVIA 2025 hadir sebagai wadah pengembangan kapasitas kader, khususnya dalam membangun pola pikir kritis, kemampuan menganalisis persoalan, serta meningkatkan sensitivitas terhadap isu-isu global. Rangkaian kegiatan dirancang dalam bentuk advokasi, pembekalan dasar argumentasi, dan analisis data yang disesuaikan dengan konteks mahasiswa kedokteran.
Ketua Umum PKOM IMM FK Unismuh, Rahul Rahman, menyampaikan bahwa STOVIA merupakan bagian dari proses kaderisasi lanjutan yang bersifat terbatas dan selektif. Ia menegaskan bahwa hanya kader PKOM IMM FK Unismuh yang telah mengikuti dan lulus DAD yang berhak mengikuti kegiatan tersebut.
Lebih lanjut, Rahul menjelaskan bahwa pemilihan Malino sebagai lokasi kegiatan bertujuan untuk mengombinasikan proses pembelajaran dengan suasana rekreatif. Menurutnya, lingkungan alam Malino diharapkan mampu memberikan ruang relaksasi bagi peserta di tengah padatnya aktivitas akademik mahasiswa kedokteran.
Rahul juga menyetujui nilai-nilai yang diusung STOVIA sejalan dengan latar belakang mahasiswa kedokteran. Ia menekankan pentingnya membentuk kader yang terbuka, peka terhadap dinamika global, serta siap melanjutkan estafet kepemimpinan di tubuh IMM.
Sementara itu, Ketua Bidang Hikmah PKOM IMM FK Unismuh yang juga menjabat sebagai Kepala Sekolah STOVIA 2025, Muh. Anugrah Rizky Ramadhan, menjelaskan bahwa tema kegiatan difokuskan pada pembentukan nalar kritis dan kemampuan analisis masalah. Ia menuturkan bahwa keseluruhan konsep STOVIA dirancang untuk mendorong peserta berpikir lebih sistematis dan reflektif.
Anugrah memaparkan bahwa rangkaian kegiatan meliputi advokasi, penguatan dasar argumentasi, serta analisis data. Ia menilai pendekatan tersebut relevan dengan kebutuhan kader saat ini, terutama dalam membangun pola pikir berbasis data dan kajian, bukan semata retorika.
Ia juga menambahkan bahwa pelaksanaan STOVIA 2025 mengalami sejumlah pembaruan dibandingkan tahun sebelumnya. Bentuk diskusi kelompok terarah disesuaikan dengan perkembangan isu dan metode terkini agar peserta lebih aktif, kritis, dan terlibat secara analitis.
Dalam penyelenggaraannya, STOVIA 2025 melibatkan alumni STOVIA 04 serta anggota Bidang Hikmah PKOM IMM FK Unismuh sebagai panitia. Sejumlah pemateri turut dihadirkan, di antaranya dr. Muhammad Risqullah Ammar, S.Ked yang membawakan materi Globalisasi Muhammadiyah, Nasruddin dengan materi Pengolahan Konflik dalam Kepemimpinan Krisis, serta Ardiansyah S. Watowiti yang mengulas Advokasi dan Kesadaran Isu Sosial.
Untuk mengukur efektivitas penyampaian materi, panitia menerapkan metode pretest dan posttest. Menurut Anugrah, metode ini digunakan untuk menilai sejauh mana peningkatan pemahaman peserta selama kegiatan berlangsung.
Salah satu peserta, Dwi Putra Arianto, mengungkapkan bahwa dirinya sempat memiliki ekspektasi rendah terhadap kegiatan tersebut. Ia mengaku awalnya mengira kegiatan akan kurang menarik karena jumlah peserta yang terbatas, namun pandangan tersebut berubah setelah mengikuti seluruh rangkaian acara.
Dwi menilai suasana kegiatan berlangsung kondusif dan menyenangkan dengan dukungan panitia yang komunikatif. Ia berharap STOVIA ke depan dapat terus dikembangkan dan memberikan dampak yang lebih luas bagi kader IMM FK Unismuh.
Melalui penyelenggaraan STOVIA 2025, PKOM IMM FK Unismuh menegaskan komitmennya dalam mencetak kader yang kritis, responsif terhadap isu sosial dan kesehatan, serta siap melanjutkan regenerasi kepemimpinan organisasi. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model kaderisasi intelektual yang berkelanjutan dan adaptif terhadap tantangan zaman.